Monday, July 15, 2013

PEMBURU PAUS LEMBATA - PERBURUAN TEREKSTRIM DI DUNIA

Indonesia memang negeri dengan keragaman budaya yang luar biasa. Banyak dari kebudayaan tersebut yang sulit dipercaya karena memiliki resiko besar dalam pelaksanaannya. Salah satunya dapat kita jumpai di pulau Lembata. Sebuah pulau kecil di Nusa Tenggara Timur, dimana terdapat sebuah desa dengan tradisi berburu yang unik sekaligus penuh bahaya : berburu paus!

BERBURU ATAU KELAPARAN

Seorang nelayan pulau Lembara
Pulau Lembata bukan tempat yang mudah untuk hidup bagi orang-orang yang hidup disana. Iklim Nusa Tenggara yang kering berarti kegiatan bercocok tanam tidak bisa diandalkan sebagai pasokan makanan utama. Namun antara bulan Mei - Oktober, keberuntungan para penduduk pulau tersebut berubah. Pada masa tersebut, Paus Sperma melintasi perairan di daerah itu sebagai bagian dari jalur migrasinya. Pada bulan-bulan ini gelombang laut juga cukup tenang, sehingga memudahkan para pemburu untuk mencari mamalia laut raksasa. Tapi itu tidak selalu menjamin para pemburu pasti akan berhasil.Mengingat mangsa mereka adalah hewan pemangsa terbesar di lautan dengan panjang bisa mencapai 18 m dan berat 45 ton. Hewan-hewan ini tidak akan menyerah tanpa memberikan perlawanan dashyat.

 TRADISI SEBELUM BERBURU

Sebelum perburuan dimulai ada beberapa tradisi, yang harus dijalani. Diantaranya adalah upacara adat 'memanggil' para paus dan juga memohon berkah dari arwah leluhur agar perburuan mereka dapat berhasil. Di hari pertama di bulan Mei, 20 perahu dipersiapkan untuk misi perburuan. 20 perahu ini melambangkan ke-20 suku yang hidup di pulau Lembata. Perahu dari suku tertua adalah yang pertama berangkat untuk mencari paus, perahu ini 'Paraho Sapang'. Apabila paraho sapang berhasil menemukan ikan paus maka perahu-perahu lain akan bergegas menyusul untuk membantunya. Tapi bila paraho sapang gagal, maka ke-20 perahu tersebut akan bergerak bersama-sama keesokan harinya dengan harapan dapat berhasil menemukan paus. Apabila kelompok paus telah ditemukan maka pertarungan hidup dan mati antara manusia dan hewan raksasa tersebut akan terjadi...

PERALATAN BERBURU YANG SEDERHANA

Pledang, perahu para pemburu paus Lembata
Memburu hewan sebesar paus biasanya anda akan membutuhkan persenjataan berat dan perahu yang kuat untuk menaklukkan mereka. Tapi orang-orang ini hanya menggunakan persenjataan sederhana dan menggunakan perahu kayu tradisional mereka yang disebut pledang. Senjata untuk menikam paus merupakan sebuah tombak bambu dengan besi runcing sebagai ujungnya yang akan ditusukkan ke kepala sang ikan paus. Sementara perahu pledang mereka terbuat dari kayu kna dan layarnya dibuat dari daun pandan. Dengan panjang 12 meter dan lebar sekitar 1,5 meter. Di ujungnya terdapat anjungan sepanjang 1-2 meter dimana sang penombak yang disebut Lama Fa berdiri. Dari sana ia akan meloncat untuk menikamkan tombaknya ke ikan paus.

PARA PEMBURU

Lompatan maut, Lama Fa merupakan posisi paling berbahaya dalam perburuan ini
Dalam perburuan ini ada 3 peran yang masing-masing menentukan berhasil atau tidaknya perburuan. Yang pertama dan paling penting adalah sang penombak yakni Lama Fa. Ini merupakan peran yang paling berbahaya karena ia yang harus berhadapan langsung dengan ikan paus. Ia harus meloncat dari anjungan pledang dan menusukkan tombaknya ke kepala si ikan paus. Peran yang kedua adalah lamuri, yakni sang juru kemudi yang mengarahkan perahu dalam penejaran ikan paus. Dan yang terakhir disebut matros, yakni para kru perahu. Agar perburuan bisa berhasil ketiga peran ini harus mampu bekerrja sama dengan baik.

PERBURUAN

Setelah paus ditemukan maka dimulailah saat penentuan. Para pemburu akan memilih target mereka, yakni ikan paus jantan dewasa yang sudah tua. Mereka tidak memburu paus betina atau anakan karena dikhawatirkan dapat mengganggu kelestarian dan perkembangbiakan para paus. Paus sperma adalah hewan yang berbahaya, dengan sekali tarikan dari tubuh raksasanya, pledang dapat tenggelam. Belum lagi sabetan ekor besarnya yang bisa menghancurkan pledang dengan sekali pukul dan dapat menghabisi semua pemburu tersebut.

Ketika target sudah ditentukan, Lama Fa akan beranjak ke anjungan bersiap untuk melakukan loncatan ke si ikan paus. Saat berada dalam jarak jangkauan, sang Lama Fa segera melompat dari anjungan dan menikamkan tombak mautnya ke kepala si ikan paus. Tapi serangan itu selalu langsung kena, bila meleset maka sang Lama Fa harus buru-buru naik kembali ke atas perahu dan mengulangi prosesnya. Bila berhasil maka pertarungan yang sebenarnya pun dimulai.
Kematian yang perlahan dan menyakitkan, namun orang-orang ini tidak punya banyak pilihan...
Para pemburu harus membuat agar si paus tetap berada di permukaan, ia bisa saja menyelam ke bawah dan menyeret pledang bersama dengan semua orang yang menaikinya ke dasar laut. Selagi si paus berusaha menyelamatkan diri, Lama Fa lain akan ikut menyerang dan menambah luka di tubuh raksasa laut tersebut. Perburuan ini bisa makan waktu lama, bahkan sampai 8 jam untuk menaklukkan satu ekor saja. Lama kelamaan luka yang diterimanya akan membuatnya kehabisan darah dan usaha menyelamatkan diri hanya akan membuatnya bertambah lelah. Pada akhirnya kematian pun menjemput sang ikan paus. 

KEBUDAYAAN ATAU PELESTARIAN HEWAN LANGKA? 

Satu paus untuk satu desa, risiko yang pantas diambil bagi mereka.
Melihat perburuan paus yang sedemikian rupa, mungkin membuat sebagian dari kita merasa sedih melihat kematian seekor paus secara perlahan dan menyakitkan. Tapi seperti telah dijelaskan sebelumnya kondisi alam Lembata-lah yang memaksa orang-orang ini untuk melakukan perburuan berisiko ini. Satu ekor ikan paus dapat memberi makan satu desa selama beberapa bulan. Belum lagi dagingnya bisa diolah untuk persediaan selama setahun. Perburuan paus tradisional ini juga tidak mengganggu populasi paus secara keseluruhan. Mereka hanya membunuh 6 paus tiap satu tahun. Dan target yang dipilih pun bukan paus sembarangan melainkan yang sudah lemah dan bukan betina yang dapat berkembang biak, ataukan anak paus yang masih bisa bertumbuh. 

Dibandingkan perburuan paus komersil yang meraup keuntungan komersil lewat perburuan besar-besaran, orang-orang ini harus hidup di tengah ironi kehidupan dimana mereka harus mempertaruhkan nyawa untuk hidup. Dan itu belum akhir dari cerita, seiring waktu tradisi pemburu paus mulai ditinggalkan. Kaum remaja mulai tidak tertarik dan memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari pekerjaan yang lebih berarti. Tapi itu cuma berarti satu hal, para pemburu inilah yang lebih terancam punah dari mangsa mereka. Sama seperti kebudayaan lainnnya di seluruh Indonesia, globalisasi dan tuntutan hidup yang makin berat akhirnya menggusur mereka ke jurang kepunahan...

VIDEO :

 

Semoga artikel ini bisa menambah wawasan anda mengenai kebudayaan Indonesia, terima kasih atas kunjungannya! 

Post a Comment